Video summary

Bedah Buku - 50 Cara Meningkatkan Closing Rate dan Repeat Order - Latif Setiawan

Main summary

Key takeaways

Business

Ringkasan Konten Bisnis (Bedah Buku & Praktik untuk Meningkatkan Closing & Repeat Order)

Inti Strategi: Bangun “SOP + CS/CRM” di Buyer Journey

Pembicara menjelaskan bahwa peningkatan closing rate dan repeat order berasal dari desain buyer journey berlapis serta eksekusi SOP pada tahap-tahap CS/CRM (bukan hanya sales pitch).

Contoh Buyer Journey (umum ~10 tahap)

  • Greeting
  • Impression
  • Small recommendation
  • Overcoming objections
  • Order form
  • Invoice transfer
  • (Tahap akhir: closing / tidak closing—bergantung respons dan tindak lanjut)

Variasi yang disebut: segmentasi dalam “rekomendasi”

“Rekomendasi” berisi segmentasi jenis customer:

  • Hit and Run (kurang edukasi)
  • Low spectrum
  • High spectrum

Playbook Peningkatan Penjualan: Tambah Stage setelah Invoice + Cross/Upsell Terstruktur

Pembicara memberi contoh pengembangan dari struktur awal 10 tahap dengan menambahkan tahap untuk menaikkan transaksi.

Ekstensi tahap (tambahan yang dilakukan)

  • Menambahkan stage pada area invoice dengan promo
  • Menambahkan stage setelah invoice: up-selling & cross-selling

Prinsip eksekusi upsell/cross-sell

  • Cross-selling: mendeteksi kebutuhan setelah pembelian produk utama, lalu bundling produk yang relevan.
  • Harus dikomunikasikan oleh CS. Jika hanya “dipajang”, pelanggan tidak akan tahu → konversi tidak optimal.

Framework Bundling & Contoh Implementasi (B2C/B2B)

Deteksi Kebutuhan & Bentuk Paket (Bundling)

Pembicara memprediksi kebutuhan setelah produk utama berdasarkan pengalaman industri (contoh kategori usaha: sekolah, RS/klinik, brand, kuliner, herbal, skincare, retail, dll.), lalu membuat paket.

Contoh kebutuhan → bentuk paket

  • Brand identity + company profile (untuk sekolah/RS/umrah travel, dll.)
  • Mascot (misalnya: tourist attraction, circumcision houses, beberapa brand kuliner)
  • Catalog (misalnya: herbal/produk retail & multitem)
  • Umrah travel bundling: kebutuhan setelah membeli travel (selama perjalanan & di Tanah Suci) → dijadikan layanan tambahan

Contoh Skema Harga Bundling (Company Profile)

  • Basic: unit price 2,25 juta
  • Dengan bundling: harga naik/berubah (contoh disebut 4,750) dan ada “hemat” dibanding beli langsung (pembicara menyebut ada savings “sekitar”, tanpa angka detail yang rapi di subtitle)
  • Pembicara menyebut pernah merevisi jumlah tier paket (awalnya banyak → direvisi menjadi 3 daripada 4) dengan alasan simplifikasi dan peningkatan penjualan

Dampak Terukur (KPI)

  • Rata-rata sales sebelumnya (sebelum upsell & cross-selling): sekitar 2 juta
  • Setelah upsell/cross mulai diterapkan: rata-rata sales meningkat jadi sekitar 4 juta
  • Kenaikan kira-kira ±2 juta (subtitle menyinggung “sekitar 4 million”, dengan konteks kenaikan signifikan karena bundling/paket)

Playbook Upselling: Mengurangi Resistensi Harga

Pembicara menekankan upselling dilakukan tidak dari awal, tetapi setelah invoice/order form agar tidak memicu resistensi.

Alasan upsell saat belakangan

  • Jika di awal, harga terasa “mahal” → muncul resistance (fear/keberatan)
  • Upsell diposisikan sebagai bantuan/pendampingan yang mengikuti kebutuhan pelanggan

Playbook Follow-up Berlapis (Untuk Mengejar Repeat Order & Closing)

Kondisi Pasar & Kebutuhan Follow-up

  • Saat ekonomi/suasana jualan “sluggish”, yang tidak ditindaklanjuti cepat biasanya tidak jadi.
  • Frekuensi follow-up cenderung meningkat jika sampai titik tertentu belum closing (contoh pola: lead yang sudah transfer 2x → follow up 5x, meski angka detail tidak rapi, intinya: semakin jauh dari closing, semakin sering follow up).

Struktur Follow-up: Plan A/B/C + Evaluasi Bulanan

  • Dibuat rencana berlapis:
    • Plan A = SOP
    • Plan B = short term
    • Plan C = medium term
    • Evaluasi long term = bulanan
  • Jika target tidak tercapai, gunakan Plan B/C (bukan mengganti total strategi).

“Layered Follow-up”: contoh timing H30/H60/H90

Follow-up berlapis hingga horizon seperti:

  • H30, H60, H90

Jenis follow-up yang disebut:

  • Sebelum invoice
  • Setelah invoice
  • Follow-up lanjutan (follow-up 2/3) sampai lead “dicek”

Target Operasional: Promo Mingguan (Uji & Iterasi)

Untuk mengatasi hambatan iklan, pembicara membuat 4 promo untuk minggu 1–4:

  • Promo minggu 1 → jika tidak efektif pindah ke minggu 2, dst.
  • Intinya: trial/iterasi cepat berbasis performa awal.

Catatan dari pembicara:

  • Iklan berkontribusi sekitar 40–50%, sehingga perlu evaluasi dan diselaraskan dengan paket yang baru.
  • Ada konteks timeline proyek: promo end sampai akhir bulan / tanggal 31, dengan evaluasi/print delivery mengikuti minggu ke-2/ke-3.

Kerangka “Diko Effect”: Mengelola Value-per-Cost lewat Operasi

Pembicara memperkenalkan pendekatan yang ditempatkan di operasional, bukan murni marketing/sales/CRM:

  • Value = benefit / cost
  • Untuk membuat harga terasa lebih “layak”:
    • Tambah benefit (mis. bonus makanan, modul digital, layanan tambahan, training/digital delivery)
    • Turunkan cost (mis. ubah format jadi digital agar biaya turun tanpa mengurangi value)

Contoh taktik benefit/cost

  • Produk fisik → sebagian dibuat digital (video + ebook sebagai bonus)
  • Umrah travel: benefit berupa member card dan layanan diskon agar repeat order terbentuk

Repeat Order & Loyalty: Standardisasi + Monitor Kompetitor

Pembentukan Ekspektasi Pelanggan (3 Faktor)

Repeat order berkaitan dengan ekspektasi pelanggan yang dibentuk dari:

  • Pengalaman sebelumnya
  • Level harga/benefit di tempat sendiri vs kompetitor
  • Standarisasi yang sesuai + monitoring kompetitor

Monitoring Kompetitor sebagai Sumber Churn/Penurunan Sales

Pembicara menyatakan kompetitor penting karena pelanggan bisa “switch” saat ada yang lebih baik.

Taktik yang disebut:

  • survei/monitor (bahkan mengikuti/calling kompetitor) untuk:
    • memahami keunggulan kompetitor
    • menemukan value yang kurang di perusahaan sendiri
    • menambah value yang tidak diberikan kompetitor

Strategi “Membuat Pelanggan Merasa Indebted”

Jika pelanggan tidak respons dari awal:

  • Fokus membuat pelanggan merasa terbantu/kind (indebtedness) dulu
  • Mekanisme: edukasi masalah pelanggan, trial gratis (free design/ebook), small talk untuk menggali kebutuhan
  • Data dan label di CRM dipakai untuk menandai respons (mis. reply vs tidak reply)

Teknik Komunikasi & CRM Operasional (Labeling & Otomasi Follow-up)

Pembicara menekankan pentingnya:

  • labeling di CRM untuk mengetahui stage proses lead

Contoh fitur CRM (Everpro) yang disebut:

  • broadcast follow-up semi-otomatis untuk lead dengan label tertentu
  • pengelompokan lead yang minta pindah kanal (mis. WA/CS) → diberi entry gift/benefit online

Contoh Kebijakan Closing: Blacklist & Ambang Respon

Aturan manajemen lead yang disebut:

  • Jika lead tidak membalas sama sekali → dianggap blacklist (dihapus kontak/label “red”)
  • Jika pernah reply 1–2 kali → tetap dikelola (tidak langsung diputus)

Alasan:

  • tidak ada empathy/concern → dianggap sulit closed

KPI/Target yang Disebut Eksplisit

Tidak semua KPI angka perusahaan disebut lengkap (mis. revenue, churn, CAC, LTV), namun ada metrik operasional & hasil yang disebut:

  • Kontribusi iklan: sekitar 40–50%
  • Rata-rata sales naik: dari ±2 juta menjadi ±4 juta setelah bundling/upsell/cross-sell
  • Timeline promo: akhir bulan / sampai tanggal 31 (promo end)
  • Evaluasi/print delivery mengikuti minggu ke-2/ke-3 (konteks proyek buku/produk)

Rekomendasi Actionable (Bisa Langsung Dipakai)

  • Buat CS/CRM SOP berdasarkan buyer journey (10 tahap atau versi sendiri).
  • Tambahkan stage up-selling & cross-selling setelah invoice/transfer.
  • Cross-sell harus berbasis kebutuhan setelah pembelian, bukan “produk tambahan random”.
  • Upsell ditempatkan belakangan untuk mengurangi resistensi harga.
  • Terapkan follow-up berlapis:
    • before/after invoice
    • horizon seperti H30/H60/H90
    • frekuensi lebih tinggi untuk lead yang posisinya makin jauh dari closing
  • Gunakan Plan A/B/C dan evaluasi bulanan.
  • Lakukan A/B promo mingguan (uji cepat minggu 1–4).
  • Nambah “value-per-cost” melalui:
    • bonus/benefit (digital + layanan), atau
    • turunkan cost (digitalisasi/format produksi).
  • Pantau kompetitor secara rutin untuk mencegah repeat churn karena ekspektasi berubah.

Sumber/Presenter

  • Latif Setiawan (judul video: “Bedah Buku - 50 Cara Meningkatkan Closing Rate dan Repeat Order - Latif Setiawan”).
  • Narasumber/presenter utama dalam sesi: Latif Setiawan (bedah buku & praktik CS/CRM).

Rate this summary

Your feedback will help improve summaries.

Improve this summary

Reprocess with a stronger model when the summary feels incomplete or inaccurate.

Pro

Translate summary in another language

Pro

Ask questions to this video

Chat for follow-up questions, clarifications, and source-backed answers.

Coming soon

Share this summary

Original video